Disebutkan dalam tafsir al-Qur’an Surah al-A’raf ayat 172 bahwa  sesungguhnya manusia yang lahir dari kandungan ibunya ke dunia ini seluruhnya merupakan makhluk merdeka, manusia diciptakan Allah swt dengan fitrahnya yang bersih, yaitu berakidah dan bertauhid dalam arti kata manusia awal penciptaan merdeka.

Kemerdekaan dalam bahasa Arab disebut al-istiqla, ditafsirkan sebagai “al-Taharrur wa al—Khalash min ayy Qaydin wa Syatharah Ajnabiyyah” (bebas dan lepas dari segala bentuk ikatan dan penguasaan pihak lain), atau “al-Qudrah ‘ala al-Tanfidz ma’a in’dam Kulli Qasr wa ‘Unf min al-Kharij” (kemampuan mengaktualisasikan diri tanpa adanya segala bentuk pemaksaan dan kekerasan dari luar dirinya). Kata lainnya yaitu al-hurriyyah, yang artinya kebebasan.

Kemerdekaan sejati itu bermula dengan hadirnya "koneksi samawi" dalam hidup. Hadirnya kemaha tunggalan yang mencipta langit dan bumi dan seluruh yang ada di dalam dan di luarnya. Dan bagi umat Muslim langkah pertama dalam kemerdekaan ini dibangun di atas keyakinan tauhid "laa ilaah illa Allah". Keyakinan inilah yang diterjemahkan dalam sila pertama dasar negara Indonesia, Pancasila, dengan kalimat: Ketuhanan Yang Maha Esa.

Di atas ikrar Ketuhanan Yang Maha Esa, kehidupan manusia Indonesia, baik pribadi maupun sebagai bangsa terbangun. Dengan semangat ikatan samawi, ikatan Tauhid, bangsa ini membangun kehidupa kolektifnya secara musyawarah dan mufakat (demokrasi yang menjunjung tinggi kebersamaan). 

Hidup yang berlandaskan fitrah, baik pada tataran individu maupun kolektif, itulah hidup yang merdeka. Dan hidup yang merdeka inilah yang mampu menemukan ketenangannya. Hidup yang tidak diikat dan tidak diperbudak oleh ciptaan. Hidup yang tiada penghambaan kecuali kepada Yang Maha Mencipta. Hidup yang selalu hadir dalam denyut jantungnya "zikrullah". Sebagaimana dititahkan dalam firman-Nya: "bukankah dengan mengingat Allah hati-hati manusia menjadi tenang?".

Dengan semangat yang sama, bangsa ini, akan selalu mengedepankan kesatuan dalam meraih cita-cita kolektifnya. Hanya dengan semangat tauhid ini pula bangsa Indonesia mampu menampilkan nilai kemanusiaan yang menjunjung tinggi adab dan peradaban. Serta dengan semangat ketuhanan dan tauhid itu Indonesia akan termotivasi untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh komponen masyarakat.

Oleh karena itu, sebagai bagian dari Bangsa Indonesia yang sedang merayakan Hari Kemerdekaannya, marilah kita memahami hakikat kemerdekaan yang sesungguhnya. Jangan sampai terjebak kepada kemerdekaan yang hanya semu alias kamuflase belaka. Serta mengisi kemerdekaan ini dengan menjadi pribadi yang berguna bagi bangsa dan negara dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia. 


Dirgahayu Negara Republik Indonesia ke-76

Jayalah Negeriku. Jayalah Bangsaku.  Jayalah Indonesiaku. Satu kata terakhir sebagai penutup, 

MERDEKA!!!

MERDEKA!!!

MERDEKA!!!