Kenapa tidak kita balikkan saja pertanyaannya menjadi “apa alasan pendidikan tidak penting bagi seorang wanita apalagi diera modern ini?” sebenarnya sebab pertanyaan ini muncul Karena sudah diregenerasikan dari zaman nenek moyang, toh pada akhirnya perempuan akan menjadi ibu rumah tangga yang akan sibuk di dapur, ngurus suami dan mengurus rumah tangga. Apabila dilihat dari sudut pandang Islam, terdapat banyak pendapat yang mengangkat derajat lelaki ketimbang perempuan.
Apabila kita melihat dari segi parsialnya, maka pendapat diatas sangat keliru. Kendati demikian, hal tersebut merupakan pendapat yang sangat keliru, jika dikatakan Islam lebih memihak lelaki dari pada perempuan sehingga mengorbankan hak-hak perempuan.
Padahal termaktub dalam al-Quran dengan tegas persamaan lelaki dan perempuan dalam kemanusiaan. Perempuan boleh berdagang ataupun berkarir dan bahkan dalam mazhab Abu Hanifah boleh seorang perempuan itu menikahkan dirinya yang menurut nya sepadan dengan dirinya. Bahkan tanpa adanya wali sekalipun.
Ada pahatan yang tertulis yang penulis lihat didinding sekolah dasar dikota Foyum Mesir: “jika kau mendidik seorang perempuan, maka kau mendidik sebuah keluarga.” Mungkin kaum hawa betanya-tanya bahkan hingga saat ini Apakah pada akhirnya kami hanya menjadi ibu rumah tangga?
Bagi penulis pribadi mengapa hal tersebut dianggap remeh? begini penjelasannya; semua yang kita lihat di alam ini memiki keterhubungan satu sama lain, termasuk manusia, hewan dan tumbuhan. Sedangkan manusia dianugerahi sebagai khalifah di seluruh muka bumi. Manusia tidak akan dapat berkembang kecuali dengan perkawinan hingga terbentuklah masyarakat, sudah jelas bahwa sebuah sebuah keluarga adalah pondasi awal dalam islam dan seorang ibu adalah landasan bagi masyarakat.
Sejauh ini kita mengetahui bahwa perkembangan alam ada dalam pangkuan sang ibu karena fitrahnya sorang bayi layaknya kertas kosong, maka ibunya lah yang menulis isinya. “Ibu adalah sekolah pertama”, Jadi sebenarnya yang jadi pertanyaan bukan soal kata "apakah hanya" namun kata "kenapa hanya", kenapa hanya harus menjadi Ibu rumah tangga dan ada apa dengan Ibu rumah tangga?
Sebagai contoh Imam Syafii dan Imam Bukhari. Pengaruhnya sangat besar dalam bidang fikih dan hadis bahkan ratusan tahun setelahnya dan kini menjadi tempat rujukan umat Islam. Pendidikan mereka bukan hanya dinilai sejak mereka berguru namun dapat dilihat sejak usia dini, dua imam tersebut lahir dari Ibu yang berpendidikan baik lagi solehah.
Menurut Dr. Josephine Azuka Onyido dari University of Port Harcourt di makalahnya yang berjudul Pendidikan dan Perempuan di Era Globalisasi, ia mengatakan bahwa "Pendidikan perempuan adalah alat penting untuk keluarga dan pembangunan nasional, perempuan harus meraih semua jalan terbuka bagi mereka untuk bersekolah dengan tujuan meningkatkan kekuatan sosial dan politik mereka di masyarakat, ini adalah alasan kuat mengapa pemerintah di seluruh dunia harus mengasumsikan tanggung jawab untuk menyediakan dana pendidikan terutama pendidikan dasar bagi perempuan."
Di era modern saat ini menjadi berhasil bagi seorang perempuan dapat memicu hal negatif, opini publik kian mengkritisi seakan ditelanjangi harga diri, padahal sejatinya harga diri tidak dapat dinilai orang lain melainkan pengenalan terhadap diri sendiri tau kekuatan dan kekurangan diri sendiri, definisi kepercayaan diri bagi mbak Najwa Shihab: “definisi dari kepercayaan diri adalah mengetahui impian masing-masing, mereka yang gagal menghargai diri sendiri tak punya kesempatan kedua menilai orang lain apalagi menghakimi sesama perempuan”.
Ruang laki-laki untuk berekspresi dan berkreasi lebih mendominasi dibandingkan perempuan. namun seperti yang disampaikan sebelumnya, kita tidak bisa menghakimi sesuatu dari segi parcialnya saja, semua yang tercipta pasti memiliki hikmah dan tujuannya tersendiri.
Wahai pembaca yang budiman, melalui tulisan yang singkat ini, penulis ingin berpesan pada seluruh pembaca terkhususnya kaum hawa, bahwa Islam sendiri menyamaratakan perempuan dengan lelaki. Tidak jauh berbeda dan tidak perlu merasa di deskriminatif, bahwa kepenulisan ini bertujuan membuka kacamata kita yang hitam dan melihat realita dunia saat ini. Selaku pelajar yang merantau antar benua, bagi perempuan, mampukah kita menjadi kader umat selanjutnya atau bahkan dapat mengkader umat demi kesejahteraan peradaban? dan bagi lelaki mampukah kita menjadi sebaik-baiknya pemimpin bahkan dalam keluarga sekalipun?
Wallahu a'lam bisshawwab


1 Komentar
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus