Segala sanjungan yang ditujukan kepada Al Azhar memang bukan berlebihan. Istilah `kiblat ilmu`, benteng ahlussunnah atau nisbat serupa itu bukan jargon yang baru-baru ini digaungkan, bukan pula untuk bangga-bangaan. Mereka yang pernah berkelana pada kitab-kitab turats (pusaka umat), tentu lebih faham.
Bagi yang diberi kesempatan merasakan langsung sentuhan keilmuan Al Azhar, banyak-banyak bersyukur. Tidak semua orang mendapat kesempatan itu. Bukan sebuah kebetulan bisa duduk bertatap muka langsung dihadapan guru-gurunya. Tidak lain, itu semua atas izin Yang kuasa.
Memang tidak ada yang luput dari kata kurang. Kita di sini merasakan dalam beberapa sisi ada yang lebih baik. Namun paling tidak, di sekeliling kita ada banyak orang yang akan mengarahkan kepada jalan yang benar. Ada pancaran keberkahan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ribuan jasad ulama terkubur dalam tanah-tanah sekitarnya, sementara karya-karyanya dikaji sepanjang masa. Seperti doa-doa yang senantiasa berterbangan memenuhi langit Al-Azhar, doa guru pada murid, doa murid pada guru, maupun doa-doa orang tua pada anaknya, agar menjadi orang yang bisa membawa umat pada tuntunan agama.
Orang yang benar-benar tulus belajar di Al-Azhar, tidak mudah dibawa arus radikal, yang memandang islam dengan pemikiran sempit. Tidak pula pemikiran liberal yang sembarang menafsirkan ajaran agama demi keuntungan yang fana.
Maka metode yang dianut Al Azhar adalah washatiyah. Metode yang pertengahan, sesuai dengan konsep agama yang moderat. Tidak berat kiri maupun kanan. Demi menyampaikan Islam yang rahmatan lil alamin, bagi umat ijabah (kaum muslimin) maupun bagi umat dakwah (semua manusia).
Namun mengetahui yang pertengahan juga bukan hal mudah. Orang tidak akan tau letak tengah kecuali setelah tau mana sudut kanan dan sudut kiri, mana ujung timur mana ujung barat. Ibarat orang yang berada di tengah padang pasir, ia tidak tahu di bagian mananya dia berada, kecuali setelah kenal betul dengan semua yang di sekelilingnya.
Makanya Al-Azhar tidak membatasi diri pada satu madzhab, tidak fanatik pada kelompok dan pemikiran tertentu. Tetapi dia terbuka, di atas untuk semua golongan. Dengan mengenal dan memahami beragam madzhab, pemikiran, kelompok dll dengan baik dan fikiran yang terbuka, barulah bisa mengambil sikap moderat, sesuai dengan konsep yang diajarkan Islam. Dan tentu itu semua perlu waktu yang tak singkat.
Maka guru-guru kita tidak mengenal belajar sebulan dua bulan kemudian keluar di tengah umat dengan label ulama, berfatwa sana sini tanpa ilmu yang matang. Tapi belajar menghabiskan bertahun-tahun untuk mendengar, mencerna dan mendiskusikan ilmu itu dengan para guru.
Karena belajar yang diyakini Al Azhar bukan sekedar proses transfer pengetahuan. Kalau hanya sekedar memindahkan pengetahuan ke kepala maka cukup sekedar baca buku, belajar dari internet. Tapi di dalam ilmu itu ada cahaya. Memang ia tidak nampak oleh bashar (mata kepala) tapi terasa oleh bashirah (mata hati).
Langkah itu lah yang dituntut kepada siapa pun yang berkesempatan belajar di Al Azhar. Sehingga suatu saat dia akan mengerti makna dibalik nama-nama yang disandingkan pada Al Azhar itu. Memang dia kiblat ilmu, gudang pengetahuan, benteng ahlussunnah, tapi bukan seperti yang dipahami begitu saja, ada sirr (rahasia) di balik itu.
Semoga kita yang diberi izin menempelkan kening di lantai Al Azhar ini, dapat mengikuti langkah guru-guru kita, dalam mengenal dan memahami Islam dengan pemahaman yang dibawakan oleh ulama terdahulu melalui guru-guru mereka, hingga sampai rantai sanadnya kepada para Shahabat yang merasakan langsung sentuhan ajaran sang maha guru, yaitu baginda Nabi SAW.
Wallahu a'lam bisshowwab

0 Komentar