Filsafat merupakan suatu disiplin ilmu yang banyak dikaji juga banyak ditentang. Setiap insan tentu tidak akan terlepas dari hakikat filsafat. Alih-alih menentang, untuk menghindar saja manusia tidak akan mampu, karena semua tindakan yang dilakukan mulai pagi hingga malam merupakan bagian dari hakikat filsafat. Filsafat memiliki cakupan yang begitu luas, ia takkan habis bila dikaji. Di antara ajarannya yaitu filsafat Idealisme.

Idealisme ialah suatu ajaran yang menekankan pada dunia Idea, meyakini bahwa kesempurnaan hanya di dunia idea, berbeda dengan realita yang senantiasa berubah dan penuh dengan kekurangan. Ajaran tersebut meyakini akan konsep dualisme, alam idea dan materi, asli dan tiruan (memesis), mahadunia dan adidunia, fisika dan metafisika. Mayoritas mengatakan bahwa teori idea dipelopori oleh seorang tokoh Yunani Kuno yaitu Plato (427-347 SM). Kemudian dianut oleh sebagian filsuf seperti David Hume, hegel, Immanuel kant, dan Al-Ghazali. Idelisme menitikberatkan pada sebuah cita-cita dan angan-angan abadi yang ada pada dunia idea, sehingga untuk meraih akan hal tersebut perlu adanya usaha secara hierarki jadal sha`id (a way up), diawali dari realita ke pikiran, dari fenomena partikular ke universal, dari makna ke  makna. Kehidupan ini berasal dari sebuah substansi yang bersifat mujarradât (tidak bergantung pada materi).

Berbagai problematika, kepalsuan, serta kekurangan lainya ialah bagian dari ciri khas realita kehidupan materi, sehingga manusia perlu kembali pada dunia abadi penuh dengan kesempurnaan hakiki. hal ini serupa dengan cantik dan kecantikan, seseorang memiliki standarisasi cantik yang berbeda-beda, tapi kecantikan hal mutlak dan sempurna. Maka menurut ajaran Idelisme cantik merupakan bentuk perwujudan dari kecantikan, cantik dapat dijangkau oleh indrawi tapi kecantikan hanya bisa diraih oleh idea, meskipun cantik bagian dari kecantikan. Manusia tidak akan pernah puas dengan harta yang didapati karena ia memiliki standarisa “kaya” yang tinggi, ini membuktikan ia tidak akan pernah bisa meraih kekayaan apabila bersandar pada usaha yang sifatnya materi saja. karena kekayaan hal yang sempurna mereka yang telah meraihnya akan merasa cukup dan puas. Menurut ajaran ini juga, selama manusia bersandar pada realita kehidupan saja maka selama itu ia akan merasakan kepedihan, kekecewaan, kesengsaraan dan sifat-sifat negatif lainnya, disebabkan realita ini ialah kehidupan tiruan dari dunia idea. Tiruan tidak akan pernah bisa sesempurna aslinya.

Sederhananya, sebuah mesjid, manusia tanpa diperlihatkan mesjid secara langsung, ia dapat menjelaskan hakikat mesjid mulai dari fungsi, keistimewaan, dan ciri khasnya melaui pikiran, inilah yang dimaksud “Idealisme”. Menurut Idelisme seluruh fenomena yang terjadi di kehidupan ini manifestasi dari alam idea “mutsul al-a`la”. Karena kehidupan bagian dari manifestasi, maka dalam filsafat Idealisme mengatakan hakikat kehidupan tidak pada realita akan tetapi pada mutsul al-a`la.

Bagi para pecinta serial anime Naruto, anda akan mendapati sosok shinobi yang berpendirian teguh terhadap Idealisme disebabkan keputuasaannya terhadap realita kehidupan dikenal dengan Uchiha Obito. Ia mengawali hidup dengan keceriaan, kasih sayang penuh terhadap materi dan realita kehidupan, kecintaannya terhadap temannya melebihi dirinya sendiri dan aturan kenegaraan, bahkan mengatakan “Shinobi yang melanggar aturan memang disebut sampah, tapi shinobi yang meninggalkan sahabatnya lebih rendah dari sampah”. Tidak hanya sampai disitu, kecintaannya terhadap teman sekitar mendorongnya untuk bercita-cita menjadi seorang pemimpin desa (hokage) guna melindungi mereka. Semangat Uchiha Obito terus membara tidak pernah pudar, namun semua itu berubah secara drastis pada saat ia mendapati temannya (rin) yang sangat dicintai meninggal dalam peperangan. Keputusasaan serta kekecewaan pun merubah dirinya. Uchiha Obito merasa semua yang dilakukan sia-sia, dan berusaha untuk memusnahkan berbagai kepalsuan yang terjadi dalam kehidupan dengan membawa manusia pada kehidupan baru nan abadi yaitu hidup dalam dunia ide dan meninggalkan kehidupan materi. Dengan kehidupan tersebut maka tidak akan ada lagi kepalsuan serta manusia leluasa menikmati apa yang diangan-angankan dalam dunia idea tanpa adanya berbagai rintangan. Dalam serial tersebut dikenal dengan sebutan “genjutsu”. Ia juga memaksa manusia dan menghalalkan berbagai cara untuk menyatu dengan idea. kematian temannya membuat Obito merasa yakin bahwa tidak semua yang dipikirkan dapat direalisasikan dalam dunia materi, kepercayaannya terhadap kakashi (teman Obito) mulai memudar dan musnah, semenjak kematian rin. Ia merasa tidak ada gunanya membangun dunia materi. Ia menginginkan kehidupan yang tetap eksis hanya dunia idea.

Idealisme Uchiha Obito tidak relevan untuk ditiru, disebabkan ia mengawali konsep Idelisme dengan sebuah kekecewaan. hal ini tidak dibenarkan dalam filsafat Idelisme, meskipun dunia idea adalah wujud hakiki yang sempurna akan tetapi dalam penggapaiannya perlu langkah-langkah yang tepat, seperti membersihkan pikiran dan jiwa dari berbagai aura negatif. Ini tidak dilakukan oleh Obito, lebih tepatnya ia berada di tengah-tengah dua muara antara idelis dan fesimis, mungkin dia belum baca semua konsep filsafat Idealisme ala Plato.