Akhir-akhir ini sering ditemui pada berbagai sosial media pembahasan seputar agama dan sains. Adakalanya pembahasan tersebut bertujuan untuk mengharmonisasikan antara keduanya, namun tidak sedikit yang berupaya membenturkan antara agama dan sains. Apalagi kondisi saat ini sangat mendukung dengan dalih bahwa pemuka agama saat ini tidak memiliki peran sama sekali dalam penanganan covid-19, bahkan mereka mulai tunduk serta patuh pada arahan saintifik, ironisnya bahwa agama yang notabene sebagai solusi justru tidak mampu memberikan sebuah solusi. Stigma negatif selalu ditujukan kepada agama dengan mengatakan ia hanya berupa ajaran-ajaran dogmatis yang menafikan rasio, di lain sisi sains selalu bersandar pada pikiran ilmiah, pengamatan dan memberikan sebuah solusi yang riil.
Terlepas agama bertentangan dengan rasio atau tidak, namun setuju atau tidak setuju, pembahasan tersebut bukan hal yang baru, akan tetapi ini sudah lama tertimbun di bawah lautan samudra, kemudian mereka mencoba mengangkat kembali ke permukaan laut dengan kemasan yang sedikit modern. coba kita sedikit mengulang sejarah, akan ditemui pada abad ke 9 hingga ke 14 merupakan abad yang cukup bersejarah dan dahsyat, karena pada saat itu terjadi perbincangan, diskusi, serta perdebatan di kalangan para ilmuwan seputar agama dan filsafat (baca: sains). Ketika itu terjadi perang pemikiran (ghazwa al-fikr) apakah agama hanya sebatas ajaran dogmatis dan menafikan peranan rasio, atau sebaliknya? [Silahkan baca sejarah abad pertengahan, agar mengetahui hasil akhir dari perang itu] Poin yang ingin disampaikan bahwa permasalahan yang terjadi saat ini, membantahnya cukup dengan memaparkan hasil perdebatan 7 abad silam, maka selesai permasalahan. lantas bagaimana hakikat agama itu? apakah benar ia telah memasung akal manusia dan merampas kebebasan berpikir?
Klaim di atas tentu tidak dibenarkan, mungkin mereka yang berkeyakinan demikian membaca literatur keagamaan yang salah dan dibuat-buat. Agama sendiri sejak diturunkan ke muka bumi ini justru memotivasi dan menjaga hak manusia terhadap kebebasan berpikir, ia juga memotivasi penganutnya untuk senantiasa berpikir kritis dan ilmiah, bahkan tidak sedikit seseorang menjadi agamis dan ilmuwan dalam waktu bersamaan seperti Ibnu Sina, Ibnu rusdy, Ibnu Khaldun dkk. dan inilah yang diinginkan agama bagi setiap penganutnya.
Tidak hanya sampai di situ, seseorang yang benar-benar ingin memahami teks keagamaan juga dituntut untuk mendayagunakan akal, inderawi dan perasaan. poin ini dapat dikuatkan dengan contoh berikut; ketika seseorang membaca ilmu tauhid maka akan dijumpai, bahwa tujuan utama dari ilmu ini yaitu meyakini keesaan dan keagungan Allah Swt dan pendekatan yang digunakan agar tercapainya tujuan tersebut dengan mengamati seluruh yang dapat dijangkau baik melalui akal, indera maupun perasaan. Hal ini juga ditegaskan oleh syekh Muhammad abu Daqiqah ketika mendeskripsikan hakikat tauhid seraya mengatakan bahwa ilmu tauhid merupakan suatu disiplin ilmu yang mengamati berbagai bentuk pengetahuan yang mengantarkan kepada keyakinan/keimanan yang benar. dengan demikian bukankah pengamatan tidak terlepas dari konteks keagamaan? bukankah pengamatan bagian dari proses berpikir yang ilmiah? bukankan berpikir dibutuhkan untuk meraih keyakinan yang diridhai-Nya? terus, di manakah sikap agama yang membekukan akal?
Benar jika yang dimaksud terdapat sebagian oknum mengatasnamakan agama untuk menegasikan peranan akal dalam kehidupan agamis dan itu tindakan yang tak bertanggungjawab yang dilakukan oleh pseudoulama. benar jika sebagian melakukan tindakan immoral tanpa dipikirkan terlebih dahulu. Akan tetapi agama sendiri tidak demikian.
Imam al-Ghazali mengatakan bahwa akal tidak akan mendapatkan petunjuk kecuali dipandu oleh syariat, dan syariat tidak akan bisa dipahami kecuali dengan aktivitas berpikir. Akal bagaikan sebuah pondasi dan bangunannya syariat, pondasi tidak dibutuhkan kecuali ingin membuat sebuah bangunan, dan bangunan tidak akan terbentuk kecuali diawali dengan pondasi yang kokoh. jadi, agama merupakan syariat yang dikemas secara rasionalis, dan akal terbentuk apabila diasup vitamin yang berupa syariat. disimpulkan akal dan agama satu kesatuan yang membentuk karakteristik seorang agamawan (baca: muslim), bila salah satu di antaranya hilang maka perlu dipertanyakan kredibilitas pemahaman agamisnya. Penulis akan mengakhiri tulisan ini dengan sebuah pepatah yang terkenal di abad tengah, “Aku berpikir agar aku beriman, aku beriman agar aku berpikir”. Wallahu a’lam…


0 Komentar