![]() |
| Gambar oleh Alexas_Fotos dari Pixabay |
Berbicara tentang rindu maka
pasti akan berbicara tentang perpisahan, baik berpisah sementara maupun
berpisah untuk selama-lamanya, atau bahkan berpisah secara jiwa maupun raga.
Sang perindu yang merindukan
keluarga karena berpisah sementara secara fisik. Sebut saja karena keperluan
melanjutkan studi ke luar negeri, sehingga Jarak antara mereka bukan hanya
antar-kabupaten ataupun provinsi melainkan antar-negara.
Dulu, tahun 90-an dan sebelumnya, para perindu benar-benar merasakan hakikat rindu karena perpisahan yang
lama. Yang biasanya diperhatikan langsung oleh seorang ibu; bagaimana makannya, tidurnya dan setiap hari
mencicipi makanan yang dimasak oleh ibunya dan menatap wajah cantik ibunya
setiap malam bahkan disaksikannya wajah dan rambut ibunya menua perlahan-lahan.
Akan tetapi karna perpisahan, semuanya terhambat.
Sang perindu tidak tahu lagi
sudah berapa uban yang tumbuh di rambut ibunya. Tidak tahu lagi sudah di wajah
sebalah mana keriput itu muncul dan ketika perpisahan itu benar-benar lama,
semakin hari rindu itu pun membara. Ingin rasanya berjumpa merasakan masakan
kembali, mendengar suara ibu. Tapi sang perindu tidak bisa berbuat apa-apa
melainkan berdoa pada Tuhan agar keluarganya dilimpahkan kebaikan dan
dilindungi keselamatannya. Sesekali jika ada kesempatan, sang perindu akan
mengirimkan surat bertanya tentang kabar keluarganya dan memberi tahu
perkembangan dirinya. Hampir makan waktu sampai berminggu agar surat itu sampai
dan lebih untuk menerima balasan surat tersebut.
Begitulah yang dirasakan sang
perindu, benar-benar merasakan rindu yang sebenarnya. Merindukan orang-orang
dan kebiasaan yang dilakukan atau suasana yang biasanya dirasakan.
Kemudian sang perindu zaman
sekarang sekarang juga berpisah dengan ayahnya karena melanjutkan studi ke luar
negeri, sama dengan yang sebelumnya, kebersamaan dengan ayahnya, yang
mengingatkan untuk senantiasa shalat tepat waktu dan lain sebagainya. Dia tidak
lagi menyatakan rindunya lewat surat, akan tetapi langsung melalui suara.
Mengobrol seperti orang yang berbicara bertatap muka. Keluh kesah yang
dirasakan di negeri orang bisa ditumpahkan dengan mudah, siraman semangat pun
kembali dia dapatkan dari keluarganya waktu itu juga. Sangat memuaskan, hingga
menumpahkan rindu ini pun tak sesulit
sebelumnya dan bisa dilakukan seminggu sekali bahkan setiap hari.
Tidak hanya sampai di sana,
ternyata dengan kecanggihan zaman pun membuat rindu itu semakin tak bermakna. Karena kini mereka bisa saling sapa dengan fasilitas video call, yang mana seseorang bisa
langsung berhadapan dengan lawan bicaranya, mendengar suaranya bahkan andai
lalat hinggap di wajahnya pun, dia tahu dan bisa memberitahu langsung agar
lalat itu diusir.
Begitulah sampai saat ini, semua
perindu yang berpisah antar-negara, rasa rindu yang sebenarnya tidak dirasakan
sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang terdahulu merindukan keluarganya,
air mata yang jatuh pun ketika merindukan mereka tidak sehangat tetesan air
mata mereka yang dulu, yang jauh lebih tulus.
Sang perindu pun kini tahu apakah kumis ayahnya sudah dicukur, atau rambut dikepala ayahnya masih tumbuh dengan baik, layaknya anak muda yang belum merasakan kepala botak karna faktor usia.
Sang perindu pun tahu ibunya
sedang memasak apa di dapur dan bisa melihat merahnya cabai sambal yang sudah
dihidangkan itu.
Hanya bau harum masakan itu belum
bisa dirasakan, bisa jadi dengan semakin cerdasnya manusia, suatu saat nanti
bisa mencium bau masakan di rumah yang dia tinggalkan jauh itu, atau pun
dia bisa langsung berjabat tangan ketika
ingin berangkat ke kampus dengan orang tua setiap harinya, sebagaimana
rutinitas ini selalu kita lakukan sebelum berpisah.
Pada dasarnya rindu itu muncul
dikarenakan ketulusan cinta kepada yang dirindukan. Ketika hal-hal yang biasa
ada menjadi tiada saat itulah dia menjadi sesuatu yang dirindukan,
Saya pribadi, ketika berbicara
tentang bagaimana rindu saya terhadap mereka yang saya cintai atau keluarga,
pasti saya menjadi garda terdepan yang berkata rindu. Meski tak seperti dalam
cerita romansa. Pun demikian bukan berarti mengajak agar rindu tidak berlebihan.
Karna sesungguhnya semakin dalam cinta maka semakin dalam pula rindunya, semakin
tulus cinta maka semakin tulus pula rindunya.
Silakan merindukan orang yang
kalian sayangi, justru dengan kerinduan kalian lebih semangat dalam menggapai
tujuan karena ketulusan cinta yang
selalu hadir dalam sela-sela kerinduan.
Semoga dalam hal kerinduan kita
lebih sadar bahwa merekalah tujuan kita dan merekalah penyemangat kita yang
kemudian nantinya tujuan itu bisa kita dapatkan dengan sempurna tanpa ada
kendala.
Sahli Daulay
Mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo


0 Komentar