Puasa ialah salah satu bentuk ibadah yang diminta oleh sang pencipta kepada hamba-Nya untuk dipenuhi. Jika dikaji secara filosofis bahwa segala sesuatu yang diminta, maka yang diuntungkan si peminta.  Seperti jika si A meminjam uang dari si B, maka yang menikmati uang itu tentu si B. Sedangkan si A tidak. Berbeda dengan sang pencipta, Dia meminta hamba-Nya untuk melakukan sesuatu, namun keuntungannya kembali kepada yang diminta. Begitu pun dengan puasa, hamba diminta untuk melakukannya tapi sang pencipta tidak butuh dengan puasa itu, baik dilaksanakan atau tidak. Seperti sabda Nabi bahwa orang yang benar melaksanakan puasa sesuai dengan syariat, maka ia dijanjikan sebuah surga khusus yang tidak dapat dimasuki selain mereka. Sehingga dapat disimpulkan, setiap beban yang diberikan pada hakikatnya, ia sebuah indikasi bahwa Allah SWT mencintai hamba-Nya melebihi cinta itu sendiri.

Berbicara seputar ibadah lahiriah, pasti Allah mengaitkannya dengan fenomena kosmos. Semisal puasa wajib, disebabkan dengan munculnya bulan baru setelah Syakban. Tujuannya seiring manusia beribadah, ia juga dituntut untuk mencari tahu hakikat alam semesta dengan penuh rasa takjub dan terus mempertanyakan. Ketika manusia telah mengetahui hakikat alam semesta, maka ketenangan dalam beribadah pun menghampiri. Semisal ketika para ahli ilmu falak tidak mengetahui metode untuk melihat bulan baru, maka syubhat terbenak di akal manusia seraya berkata, “Benar tidak ya, hari ini sudah memasuki bulan Ramadhan?”

Kesadaran sebagai syarat dalam melakukan ibadah termasuk puasa, di antara kesadaran manusia yaitu mengetahui ibadah yang akan dikerjakan, dengan cara menganalisis esensi puasa tersebut. lantas apa esensinya?

Puasa adalah, menahan diri dari berbagai bentuk kesenangan hawa nafsu seperti makan, tidur, jimak, dan sebagainya dengan waktu yang telah ditentukan. Sekilas dari definisi tersebut, puasa pada hakikatnya meniadakan perbuatan. Al-Ghazali  dalam karyanya yang berjudul Ihya Ulumuddinmerincikan esensi dari puasa dengan membaginya menjadi 3 bagian:
Pertama, puasa umum yaitu menahan diri untuk memenuhi hasrat dan kesenangan hawa nafsu seperti makan, minum, jimak dan sebagainya, pada waktu yang telah ditentukan. Tujuan utamanya agar manusia mampu melatih diri untuk tidak berlebihan dalam memanjakan nafsu dan fokus berinteraksi dengan sang pencipta. Sebagaimana sabda Nabi, “Allah SWT berfirman, ’lihatlah, wahai malaikat, hambaku senantiasa menyampingkan syahwat dan nafsunya hanya untuk mendekatkan diri terhadap-Ku.” Di antara tujuan lainnya, agar senantiasa ingat berbagai kenikmatan yang telah diberi oleh-Nya, yang dilupakan oleh hamba-Nya. Ketika orang kaya menahan diri dari makanan, maka seketika ia akan mengingat betapa nikmatnya makanan yang selama ini selalu terpenuhi serta mengingatkan sebuah penderitaan yang dialami oleh saudaranya yang miskin serba kekurangan dalam kebutuhan pokok.
Kedua, puasa khusus yaitu mengontrol anggota tubuh, panca indra khususnya dari segala perkara-perkara maksiat, yang memunculkan murka sang Ilahi. Menandakan bahwa menahan diri dari makanan saja tidak cukup. Karena ketika seseorang mampu menahan diri dari makanan, namun lidah tidak mampu dikontrol sehingga apa pun keluar dari mulutnya tanpa ada filter, akan merusak nilai puasa tersebut. Hal ini dikuatkan dengan pernyataan Imam Sufyan ats-Tsauri bahwa gibah merusak puasa seseorang. Dan orang yang hanya mampu menahan diri dari makanan dan minuman, namun tetap melakukan perbuatan maksiat, hanyalah sebuah kesia-sian.
Ketiga, puasa lebih khusus yaitu menjaga hati, pikiran serta jiwa dari berbagai perkara duniawi, dan hanya menghabiskan waktu hanya untuk beribadah terhadap-Nya. Mereka yang sudah mencapai pada fase ini maka ia orang yang beruntung, karena fase ini kebanyakan yang mampu melakukannya para Nabi dan para wali. Adnan Ibrahim, dalam ceramahnya, mengatakanbahwa hikmah terbesar dari puasa adalah menguji seberapa dekat engkau dengan sang pencipta dan merasakan keberadaan-Nya.

Setelah mengetahui esensi puasa apakah sudah selesai? Tentunya belum. Harus ada proses selanjutnya yaitu benar-benar merealisasikan puasa tersebut dengan sebenar-benar ibadah yang diridhoi-Nya. Dan apabila tidak terwujud, maka puasa tersebut tidak dianggap sebagai ibadah, ketika tidak dianggap ibadah, maka ia tidak mendapat keridhoan-Nya, meskipun secara lahiriahnya ia berpuasa. Dan ketika hanya kesia-sian yang didapat, pada saat itu juga setan pun bahagia, walaupun ia terbelenggu. Karena kesia-sian salah satu metode setan dalam menjerumuskan Bani Adam. Sebagaimana tertera dalam surah Al-A’raf: 16-17:

“Iblis menjawab, ‘Karena Engkau telah menghukumku tersesat, maka saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.’”

Ambisi setan untuk menyesatkan manusia itu kuat, maka mereka akan sangat bahagia melihat manusia tersesat tanpa menguras tenaga dan pikirannya.

Mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo