Kenapa peristiwa isra mikraj terjadi pada malam hari? Kenapa tidak waktu siang? Bukankah itu lebih tepat, agar manusia pada saat itu dapat menyaksikannya secara langsung tanpa harus ada pengingkaran?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, saya akan mengajak Anda untuk menikmati renyahnya uraian yang disuguhkan imam Sya'rawi dalam kitabnya, al-Mu`jizah al-Kubra: al-Isra’ wal Mi`raj. Tentunya jika ditemani segelas teh hangat, akan lebih menyenangkan.

Mukjizat para Nabi terdahulu sebelum Nabi Muhammad SAW semuanya berbentuk hissy (indrawi) dalam artian, semuanya mukjizat tersebut bisa ditangkap dengan panca indra, dan semua mukjizat tersebut terjadi tepat di depan mata kaumnya. Misalnya seperti mukjizat NabiIbrahim AS ketika ia dilemparkan ke dalam api yang berkobar, lalu api tersebut tidak membakar jasadnya, bahkan ia merasa dingin di tengah kobaran api tersebut, peristiwa ini terjadi tepat di depan mata kaumnya. Begitu juga Nabi Musa AS ketika ia membelah lautan dengan tongkatnya, lalu kaumnya pun menyeberangi lautan dengan selamat, peristiwa ini pun terjadi tepat di depan mata kaumnya. Begitu juga Nabi Isa AS mukjizatnya tepat terjadi di depan mata kaumnya.

Jika demikian lalu kenapa peristiwa isra mikraj ini tidak terjadi di siang hari, sehingga manusia pada waktu itu dapat menyaksikannya secara langsung?

Sebelumnya, harus diketahui terlebih dahulu, bahwa  Nabi Muhammad SAW diberikan mukjizat hissy plus diberikan mukjizat maknawi. Adapun mukjizat hissy, seperti membelah bulan, air memancar dari jari-jemarinya, mengenyangkan orang banyak dengan makanan yang sedikit, dsb. Sedangkan mukjizat maknawi, seperti al-Quran, dan isra mikraj. Mukjizat ini tidak bisa dinalar dengan panca indra, melainkan ini diketahui dari pengakuan Nabi SAW sendiri. Dengan begitu, maka tak seorangpun yang bisa menyaksikan bagaimana proses turunnya Jibril AS dalam membawa wahyu (Al-Quran). Juga tak seorangpun yang bisa menyaksikan bagaimana peristiwa isra mikraj yang terjadi hanya dalam satu malam.

Maka inti permasalan di sini adalah masalah keyakinan. Ketika Allah SWT memberi Nabi SAW mukjizat hissy, seperti membelah bulan, memancarkan air dari jari jemarinya, lalu apakah setelah menyaksikan mukjizat tersebut membuat kaumnya beriman? Jawabannya tidak, bahkan mereka menuduh Muhammad sebagai tukang sihir. 

“Dan tidak ada yang menghalangi Kami untuk mengirimkan kepadamu tanda-tanda kekuasaan Kami, melainkan karena tanda-tanda itu telah didustakan oleh orang terdahulu.” (Al-Isra : 59)

Begitulah adanya, ayat-ayat hissiyah tidak dapat menjadikan manusia beriman, sebagaimana yang terjadi pada Nabi Shalih AS, ketika kaumnya meminta untuk mengeluarkan unta betina dari gurun tandus, setelah Allah SWT mengabulkan permintaan tersebut, mereka tetap saja tidak mau beriman. Begitu juga umat Nabi Musa AS ketika ia membelah lautan dan menyelamatkan umatnya dari kejaran Fir'aun dan bala tentaranya, bahkan mereka melihat sendiri bagaimana Fir'aun ditenggelamkan Allah SWT. Lalu apakah setelah itu mereka tetap beriman? Jawabannya tidak.

“Dan kami selamatkan Bani Israil saat menyeberangi laut itu, ketika mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala, mereka berkata, wahai Musa! Buatlah untuk kami berhala sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala). Maka musa menjawab, sungguh kamu adalah orang-orang yang bodoh.” ( Al-a'raf : 138)

Begitulah, mukjizat yang sudah nyata di depan mata Bani Israil, bahkan mukjizat itulah yang menyelamatkan mereka, namun setelah itu mereka lupa kepada Allah, sampai-sampai mereka meminta Nabi Musa untuk membuat patung berhala untuk dijadikan sesembahan. Adakah yang lebih bejat dari pengingkaran ini?

Oleh karena itulah, Allah SWT ingin menjadikan peristiwa isra mikraj ini sebagai dalil atau bukti pembenaran keimanan, dan peristiwa ini akan tetap menguji keimanan kita sampai hari kiamat. Melalui itu Allah SWT menjadikan peristiwa ini gaib, dalam artian, luput dari pandangan manusia, namun menopangnya dengan argumentasi yang nyata. Sehingga siapa pun bisa mendiskusikannya dengan akal. Tentunya ini akan menjadi salah satu gerbang keimanan bagi siapa saja yang ingin mendalami dan merenungi.

Diskusi ilmiah ini dimulai ketika Nabi SAW bercerita kepada orang-orang Quraisy bahwa dirinya telah melakukan perjalanan dari masjid al-Haram, Makkah ke masjid al-Aqsha, Palestina dengan jarak tempuh satu malam. Seketika orang-orang Quraisy terkejut dengan cerita yang sulit diterima akal tersebut, kenapa begitu? Karena mereka menempuh perjalanan dari Mekkah ke Palestina membutuhkan waktu satu bulan, itu pun di tempuh dengan unta, bagaimana kalau jalan kaki? Itulah yang menyebabkan orang-orang Quraisy tidak dapat membenarkan cerita Muhammad SAW.

Setelah itu, tiba-tiba di antara mereka ada yang mencoba menguji kebenaran cerita Nabi SAW tersebut, ia pun mengawali dengan pertanyaan, “Muhammad! shif lanâ al-masjid al-aqsâ” (Muhammad! Ceritakanlah bagaimana bentuk masjid al-Aqsha). Ini mereka tanyakan karena mereka mengetahui bahwa Muhammad belum pernah melihat masjid al-Aqsha sebelumnya. Lalu Nabi SAW pun menceritakan bagaimana bentuk dan ciri-ciri masjid al-Aqsha dengan  sempurna tanpa ada satupun kesalahan.

Namun lagi dan lagi orang-orang Quraisy belum puas dengan jawaban tersebut, mereka bertanya lagi, "Shif lanâ mâdza raita fî at-tharîq?" (Ceritakanlah apa saja yang engkau lihat di tengah perjalanan). Nabi SAW pun menceritakan bahwa di tengah jalan ia berjumpa dengan satu kafilah (sekelompok orang)  menuju Mekkah, dan kafilah tersebut didahului seekor kuda berwarna hitam, dan kafilah tersebut akan sampai Mekkah besok pagi. Mendengar penjelasan Nabi SAW itu orang-orang Quraisy keluar untuk menunggu kafilah yang diceritakan tersebut. Esok paginya, kafilah itu sampai di kota Mekkah, orang-orang Quraisy pun berhamburan sambil menyerukan tibanya kafilah yang mereka tunggu-tunggu. Ternyata mereka menyaksikan bahwa kafilah tersebut persis seperti yang diceritakan Nabi SAW, kuda hitam itu tepat mendahului kafilah, sebagaimana yang diceritakan Nabi SAW.

Namun, begitupun bukti nyata yang diberikan Nabi SAW atas kebenaran perjalanannya, orang-orang Quraisy tidak sepenuhnya membenarkan Nabi SAW, bahkan di kalangan orang-orang beriman sendiri pun terjadi fitnah tentang peristiwa ini, sehingga sebagian mereka mengadukan hal ini kepada Abu Bakar, ketika ditanya, Abu Bakar menjawab, “Selama Muhammad yang berkata, maka itu sudah pasti benar, apakah kita membenarkan berita langit (wahyu), lalu mengingkari peristiwa ini?” Inilah yang menyebabkan Abu Bakar diberi gelar As-Shiddîq (banyak membenarkan), karena ia selalu membenarkan apa saja yang datang dari Nabi SAW.

Pernyataan Abu Bakar di atas mengajarkan kita tentang hikmah kenapa isra mikraj terjadi secara gaib, ini adalah ujian keimanan, apakah orang-orang beriman membenarkannya atau tidak? Sebagaimana halnya dengan al-Quran, ia diturunkan melalui Jibril yang tidak bisa ditangkap dengan panca indra, namun kita tetap membenarkannya, karena hal tersebut dikonfirmasi langsung oleh Nabi SAW. Andai al-Quran diturunkan dalam bentuk lembaran-lembaran yang bisa disentuh, maka bisa dipastikan, orang-orang pada waktu itu akan mengatakan bahwa itu adalah sihir bukan  kitab suci asli.

“Dan sekiranya kami turunkan kepadamu (Muhammad) tulisan diatas kertas, sehingga mereka dapat menyentuhnya dengan tangan mereka, niscaya mereka orang-orang kafir akan berkata, ‘ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata.” (Al-An'am:7)

Begitu jugalah peristiwa isra mikraj ini, kenapa terjadi di malam hari? Kenapa terjadi secara gaib? Jawabannya, ini adalah ujian keimanan. Apakah iman manusia hanya sebatas di bibir saja, atau sebaliknya iman tersebut murni karena Allah dan Rasul-Nya. Karena di awal-awal Islam, Allah SWT tidak menginginkan dakwah Islam ini diemban oleh orang-orang yang lemah imannya, maka melalui peristiwa ini Allah ingin memilih orang-orang yang akan mengemban dakwah Islam ini, yaitu mereka yang memiliki iman yang kuat dan memiliki himmah yang tinggi Pada agama Islam, seperti sosok Abu Bakar As-Shiddiq.

Untuk itu melalui peristiwa isra mikraj ini, seyogyanya bagi umat Islam untuk menjadikan peristiwa ini sebagai charger keimanan, yang akan menghidupkan kembali cita rasa keislaman di setiap sisi kehidupan, yaitu untuk menyongsong kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Amiin……

Wallahu A'lam

Mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir