Pic by: Freepik


Dalam meraih segala sesuatu yang diinginkan hal pertama yang harus dimiliki ialah kecintaan (mahabbah). Karena jika hilang suatu kecintaan seseorang dalam meraih apa yang ingin dicapainya, maka semua akan terasa hampa. Lalu, hal yang melanjutkan antara mahabbah dengan lainnya agar menyatu adalah himmah/keinginan (niat). Karena ketika kita menyukai suatu hal dan mencintainya,  maka kita berhasil  menciptakan gairah, terlebih posisi kita sekarang menjadi seorang penuntut ilmu.
Menyangkut hal ini, sering terjadi masalah pada diri penuntut ilmu; individual maupun komunitas. Tetapi perlu diketahui bahwa hal tersebutlah yang menjadikan kita lebih bergairah dalam belajar walaupun tentunya banyak lika-liku, keunikan serta aqobah (gangguan) di dalamnya karena pastinya sembilan puluh persen ilmu itu tidak diraih dengan cuma-cuma dan bersantai -santai.
Kali ini penulis akan membahas, Bagaimanakah keelokan seorang penuntut ilmu? Bagaimanakah Ulama-ulama terdahulu memiliki gairah dalam meraih ilmu? Apa saja aqobah /gangguan seorang penuntut ilmu? Dan sudahkah waktu 24 jam kita bermanfaat?

Menuntut Ilmu Adalah Nikmat

‘Allamah Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah didalam Kitabnya Qimmatuzzaman‘Indal-‘Ulama memaparkan salah satu nikmat yang Allah SWT berikan terhadap hambanya –selain dari pada nikmat sehat dan kebugaran– adalah nikmat ilmu. Karena sejatinya nikmat ilmu adalah yang meninggikan derajat seseorang dan menjadikan nikmat di dunia maupun akhirat. Lalu, mengapa kita tak bergairah, bahkan tak menggebu-gebu dalam meraih hal tersebut? Lalu Apakah kita sudah layak dikatakan sebagai penuntut Ilmu?
Sejatinya demikian langkah sebagai pelajar sudah kita lakukan, yaitu salah satunya adalah merantau dari tempat kelahiran hingga ke daerah atau bahkan negara yang tak pernah kita kenal sebelumnya, sebagaimana salah satunya Imam AbuJa’far Muhammad bin Jarir At-Thabari, beliau adalah seorang mufassir, muhaddits, faqih serta muarrikh yang lahir di kota Aamul, Thabaristan terletak diwilayah Persia. Beliau sudah pergi jauh dari tempat asalnya ke berbagai daerah seperti Khurasan, Mesir, Syam, Baghdad, dan sebagainya. Tentu ini adalah salah satu poin yang sudah kita jalankan.
Sebagai tanda bahwa beliau merasakan ilmu merupakan nikmat dari Allah SWT dan yang menumbuhkan kegairahan dalam belajar adalah dengan rela meninggalkan tempat asalnya. Tapi ini sudah kita lakukan, bukan? lalu apa yang menjadikan hilangnya gairah serta nikmat tersebut pada diri kita?
Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah juga menuliskan di dalam kitabnya ShofahatMin Shobril-Ulama’, “Setiap segala sesuatu yang kita inginkan pasti kita cintai. Ilmu adalah keinginan dari setiap pecintanya, ilmu adalah suatu kemuliaan dan pastinya ada pengorbanan layaknya kesiapan fisik, administrasi, waktu, meninggalkan sanak saudara dan segala kenikmatan lainnya.” Lalu beliau berkata lagi, “Ilmu itu tidak datang secara sendirinya, kaulah yang harus mendatanginya.” Dan Imam Yahya bin Abi Katsir berkata, “Ilmu tak diraih dengan bersantai-santai.”

Akankah Kita Sia-Siakan Nikmat Ini?

Dalam perkataan di atas sudah jelas bahwa itulah yang sejatinya penuntut ilmu lakukan agar bergairah dalam menjadikan hari-harinya lebih bermanfaat, kecintaan terhadap ilmu. Apakah kita tahu bahwa perjalanan kita ke tempat ini akan menyelamatkan kita dari kematian? Apakah orang tua kita mempunyai janji dan berkata pada Allah SWT, “Ya, Allah, tolong selamatkan anak hamba dalam perjalanannya.”  Apakah kita bisa membuat janji dengan Allah SWT?
TENTU TIDAK!
Maka apakah kita masih menyia-nyiakan waktu kita yang 24 jam ini? Tentu kita tidak mau.
Dalam setiap perjalanan belajar, kita memiliki aqobah (gangguan) yang berbeda-beda, tapi pada umumnya, Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah memaparkan gangguan pada setiap penuntut ilmu senantiasa bisa memerangi masa tidur atau istirahatnya serta segala kenikmatan yang menjadikan ia lalai. Tentu gangguan pada saat ini adalah gadget yang kita miliki serta masa kita yang terlalu banyak menjadikan tempat ini –tempat perantauan, ed– adalah rihlah, tentu kita tak dituntut selalu belajar tetapi agar mementingkan hal yang terpenting saat ini yang harus kita jalani dan lakukan ke depannya.
Dengan demikian segala yang kita lakukan di negeri Kinanah ini dengan cintanya kita terhadap ilmu kita akan memperbanyak majlis dan mulazamah terhadap masyayikh serta tidak menyia-nyiakan waktu kita selama 24 jam agar menjadi insan yang lebih baik dan berpotensi. Walaupun kita tidak bisa melakukan seluruh tata cara ulama agar bergairah dalam menuntut ilmu, secuil dari langkah mereka saja sudah sangat berharga bagi kita. Semoga kita diberikan rasa nikmat dalam menuntut ilmu serta bermanfaat bagi kita, Aamiin.

Mahasiswa Universitas al-Azhar