Saat ini, banyak ditemui makhluk dunia maya hobi menampakkan taring dan keganasannya dalam mengkritik namun, tidak membangun sama sekali. Bahkan, menghukumi seseorang dengan seenaknya, hanya berlandaskan "katanya" atau "berita" yang dia sendiri belum mengetahui kevalidannya. Walaupun begitu, tetap diberi apresiasi atas keinginannya untuk mengkritik daripada tidak sama sekali. Hanya saja, kritikan juga perlu mengikuti aturan yang ada, tidak hanya sekedar bahkan sampai menjatuhkan.

Mungkin tidak perlu mengambil contoh kritikan para politikus seputar permasalahan politik, karna politik tergantung seberapa besar kepentingan dan keuntungan yang didapat. Kita bisa ambil contoh dalam permasalahan agama. Sering sekali doktrin agama dilakukan oleh mereka yang memiliki kecakapan di dalamnya, dengan berkata, "Coba liat si fulan itu, berani-beraninya mengatakan ini halal, itu haram, jangan pernah sekali pun dekati dia karena banyak kesesatan yang dilakukannya dia ingin menghancurkan Islam dari dalam." Sering terjadi sebuah doktrin dan menjadi kokoh terpendam dalam diri manusia, konsekuensinya ia pun enggan membaca suatu yang berbeda dengan pemahamannya.

Sebenarnya yang ingin dipermasalahkan pendapatnya atau orang yang berpendapat? Jika pendapatnya, lantas kenapa harus dibarengi dengan penghukuman terhadap orangnya? Jika yang dipermasalahkan adalah orang yang berpendapat, apa yang diketahui oleh si penghukum ini tentang orang tersebut?

MUI mengeluarkan kebijakan untuk shalat di dalam rumah, bagi lingkungan yang terdapat wabah covid-19. Hal tersebut tidak berjalan dengan semulus yang diperkirakan, namun menimbulkan pro dan kontra terhadap fatwa yang dikemukakan. Pihak kontra beralasan, "Tidak ada ketaatan dari makhluk kepada makhluk dalam berbuat maksiat kepada Allah."

Apakah anjuran shalat di rumah sebuah bentuk maksiat? Apakah makna dari mesjid hanya sebatas tempat yang memiliki kubah di atasnya?

Juga timbul permasalahan seputar lagu yang mendeskripsikan sifat fisik Sayyidah Aisyah, fenomena ini pun dijadikan kesempatan bagi kelompok yang meyakini musik haram untuk kembali mempengaruhi umat dengan keharaman musik.

Sama sekali hal demikian tidak menghasilkan apa-apa, akan tetapi perpecahan yang terjadi. Sulit ditemui perdebatan yang menghasilkan sebuah karya. Berbeda dengan umat terdahulu, setiap permasalahan yang menimbulkan perdebatan selalu menghasilkan sebuah karya. Sebagaimana yang terjadi antara filosof muslim  Ibnu Sina, Al-Farobi, dsb. dengan Al-Ghozali, kemudian Imam Ghozali dan Ibnu Rusydi.

Diketahui bagaimana kritisnya Al-Ghazali membantah berbagai bentuk argumentasi yang dikemukakan para filosof dan dalam waktu bersamaan Ibnu Rusydi juga mengkritik bantahan Al-Ghozali yang ditujukan pada para filosof.

Sebelum Al-Ghozali mengkritisi pandangan para filosof, ia terlebih dahulu menjelaskan metode filsafat yang digunakan filosof, muncullah karyanya “Maqosidul falasifah” dan membenahi apa yang seharusnya, sehingga tercipta karyanya yang berjudul “Al-Munqidzu minad dhalal”. Kemudian mulai menguraikan kecacatan argumentasi filosof dengan judul Tahafutul Falasifah. Apakah terhenti hanya sampai di sini? Sudah pasti tidak, muncul seorang tokoh muslim yang bernama Ibnu Rusydi mulai menguraikan perbedaan metode filosof dengan metode Al-Ghozali, Tahafut at-Tahafut, dengan berkesimpulan bahwa metode Al-Ghazali dan filosof berbeda, tentu tidak bakal ada titik temunya. Sama seperti seorang bermazhab syafi’i membantah seorang yang bermazhab hanafi dengan menggunakan metode syafi’i, sampai kapan pun tidak akan ketemu. Bahkan, sampai Uchiha Madara hidup lagi dan menjadi Hokage di  Konohagakure tidak akan pernah bisa ketemu.

Uraian di atas dapat disimpulkan jika seseorang ingin mengutarakan kesalahan pendapat lawan bicara, seyogyanya, mengikuti tahapan yang ada, seperti mencari tahu terlebih dahulu, membaca dari berbagai sumber bahkan, sumber yang (dianggap) menyimpang sekalipun dan memahami maksud pernyataan dari lawan bicara. Pengetahuan dan wawasan bekal utama yang harus dimiliki setiap manusia agar mendapatkan kemuliaan. Ini dikuatkan dengan pertanyaan para malaikat kepada Allah SWT, kenapa harus manusia menjadi pemimpin, padahal kami lebih unggul dalam hal ketaatan. Allah SWT berfirman: “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”  Kemudian dilanjutkan lagi dengan ayat setelahnya “Dan Dia ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat, seraya berfirman, ‘Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!’”

Dapat disimpulkan karena keilmuan yang ada pada manusia sebab utama Allah memilih ia menjadi pemimpin di muka bumi ini, terlepas manusia sifat alamiahnya selalu merasa tidak puas. Dapat dilihat dari firman Allah, "Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia." Penyandingan kata “baca” dengan sifat “kemuliaan Allah”, sebuah indikasi bahwa selama manusia senantiasa membaca, maka kemuliaan yang dianugerahkan-Nya akan selalu bertambah. Jadi seseorang yang mengkritik tanpa ada bekal ilmu, secara tidak langsung ia ingin menghinakan dirinya di hadapan para khalayak dan menghilangkan hakikat  kemanusiaannya. Adnan Ibrahim, ketika diwawancarai dalam salah satu siaran televisi mengatakan, “Setiap kali aku membaca, setiap itu juga aku merasa seperti murid yang tidak tahu apa-apa.”

Dan yang terpenting bijaklah dalam berucap. Jangan sampai yang mengkritik hanya membaca satu karya, bahkan tidak tamat dibaca. Kemudian berani membantah bahkan menjatuhkan seseorang yang sudah menyelesaikan puluhan karya dan menciptakan puluhan karya.

Mahasiswa Universitas al-Azhar, Kairo