Kontroversi
Antara Ilmu Pengetahuan Dan Agama
Oleh : Auliya Akhyar Nasution
Fenomena yang timbul di kancah dunia saat ini yang
menarik untuk dijadikan rahasia publik, yaitu antara keagungan ilmu pengetahuan
dan kesucian agama. Jika kita membahas kedua hal fenomenal ini, seolah kita
akan melihat keduanya bagai dua roda dengan pedal dayungan yang sama-sama
bertugas untuk menyeimbangkan poros jalannya sepeda kehidupan manusia di dunia,
apabila pedal dayungan tidak bekerja, maka secara otomatis kedua roda sepeda
lama-kelamaan akan berhenti untuk berputar. Dan jika sebaliknya, roda sepeda
mengalami masalah dengan kinerjanya, maka sang pedal akan sangat sulit untuk
menyeimbangkan sepeda tersebut.
Pembahasan mengenai dua hal ini akan mengantar
kita ke tiga pintu yang akan menuntun kita ke hakikat pemahaman dan suatu saat
pemahaman ini akan menjadi patron bagi diri kita, yaitu: hakikat ilmu
pengetahuan, hakikat agama serta keterkaitan antara ilmu pengetahuan dan agama.
1. Hakikat Ilmu Pengetahuan
Banyak pendapat yang berbeda dalam menjelaskan
hakikat ilmu pengetahuan, seperti pengertian yang dijelaskan oleh para pemuka
ilmu filsafat, mereka menyebutkan bahwa ada tiga pengetahuan ilmu menurut
definisi mereka : Pertama, ilmu adalah pengetahuan yang mutlak yang
didasari oleh keyakinan. Kedua, hasil dari gambaran suatu zat yang
terkonsep di akal sehat, seperti konsep akan gambar sebuah pemandangan dengan
dua gunung yang menghampit matahari terbit dari timur, konsep ini menunjukkan
bahwa adanya ilmu yang tergambar di dalam akal. Ketiga, ilmu adalah
istilah dari sebuah pokok pemikiran independen yang sesuai dengan kejadian di
dunia nyata dan berdasarkan sebuah bukti yang konkrit.
Jika kita menarik garis lurus, kita dapat
menyimpulkan bahwa makna ilmu berdasarkan tiga pendapat ini adalah : paham akan
suatu maklumat, yang sesuai dengan kejadian di dunia nyata dan didasari oleh
bukti yang konkrit.
Adapun pembahasan ilmu pengetahuan dapat dibagi
menjadi dua aspek : Aspek yang pertama adalah ilmu pengetahuan yang
berkaitan dengan humanism (kemanusiaan), seperti ilmu sosiologi, ilmu
logika, ilmu psikologi, ilmu biologi dan lain sebagainya. Dan ada juga ilmu
pengetahuan yang tidak berkaitan dengan kehidupan manusia, seperti ilmu fisika,
ilmu astronomi, ilmu komputer, ilmu mekanik dan lain sebagainya. Aspek yang kedua,
yaitu ilmu teori dari praktek.
2. Hakikat Agama
Hakikat agama secara bahasa adalah sebuah ikatan
antara dua pihak, yang salah satunya lebih tinggi dan yang lainnya lebih rendah.
Adapun secara istilah adalah : mengetahui hakikat yang agung dan
mengagungkannya.
3. Keterkaitan Antara Ilmu Dan Agama
Mengenai hal yang ketiga ini, banyak pihak yang
berbeda pendapat mengenai hal ini, perbedaan pendapat ini dipicu oleh latar
belakang subjek-subjek yang berbeda. Di dalam perbedaan ini akan menyimpulkan
mana yang benar dan mana yang salah.
Pendapat pertama, menjadikan ilmu pengetahuan sebagai asas
kehidupan dan meninggalkan urusan agama. Penadapat ini dikemukakan oleh dua
pihak. Pihak yang pertama adalah para ilmuwan Eropa yang hidup di awal masa
keemasan Eropa dan pihak yang kedua adalah para cedikiawan muslim yang menuntut
ilmu di Eropa yang telah tercuci pemikirannya, sehingga pemikirannya menyimpang
dan memilih jalur yang salah.
Jika kita menyetujui pendapat ini, maka kita akan
terjebak dalam dua hal yang melawan fitrah dari kehidupan dunia. Mengedepankan
ilmu pengetahuan dan mengesampingkan urusan agama akan membuat ilmu yang kita
tuntut mempunyai mudharat yang lebih besar daripada maslahatnya bagi kehidupan.
Bagaimana tidak, karena kadar akal manusia terbatas dalam memahami seluruh ilmu
pengetahuan yang ada di dunia, dan jika dipaksakan maka akal tidak akan sanggup
bertahan lebih lama, karena kehilangan cahaya penuntunnya.
Pendapat kedua, menjadikan agama sebagai asas kehidupan dan
meninggalkan ilmu pengetahuan. Pendapat ini dikemukakan oleh penganut agama
yang tak berilmu dan berpendidikan. Mereka berkata bahwa agama dan keyakinan
sudah lebih dari cukup untuk menuntun jalan manusia, karena mereka meyakini
bahwa Tuhan tidak akan membuat suatu hal baru yang tidak ada dibahas oleh
agama, adapun ilmu pengetahuan yang dipelajari di dunia ini, adalah kamuflase
dari siasat yang dibuat oleh manusia, untuk menjerumuskan manusia hingga
jatuh kedalam jurang kesesatan. Pendapat kedua ini, mungkin akan dianggap benar
oleh segelintir orang, dan mungkin termasuk orang-orang yang membaca buletin
ini. Maka kita akan meluruskan anggapan benar ini, bahwa pendapat ini adalah
pendapat yang salah fatal, bagaimana tidak salah, seolah mereka tidak
mengetahui hakikat dari kata beragama. Ini menunjukkan bahwa pada hakikatnya
pemahaman orang yang menyetujui pendapat ini kurang memahami apa arti agama
sebenarnya.
Pendapat ketiga, menggabungkan ilmu pengetahuan dan agama, kemudian
menjadikan agama sebagai alat untuk membantu majunya ilmu pengetahuan. Pendapat
ketiga ini sangat jelas menyalahi hakikat ilmu pengetahuan dan agama. Hakikat
agama yang sifatnya tetap tidak ada perubahan harus menjadi alat untuk membantu
sistem yang dibuat oleh ilmu pengetahuan. Maka secara otomatis ilmu pengetahuan
yang selalu mengalami perkembangan dan kemajuan akan mengalami staknan dan
tidak akan maju berkembang.
Pendapat keempat, menggabungkan ilmu pengetahuan dan agama,
kemudian menjadikan ilmu pengetahuan sebagai alat untuk memperkokoh keyakinan
dalam beragama. Nah, pendapat inilah yang harus dipegang oleh orang-orang
agamis yang telah kokoh agamanya. Sebagaimana contohnya, yaitu ulama-ulama kita
terdahulu yang berpegang teguh terhadap agama dan menjadikan agama sebagai asas
atas segala sesuatu yang mereka anut dan mereka yakini, kemudian menjadikan
ilmu pengetahuan sebagai nilai tambah bahwa agama memerintahkan kita untuk
bebas berfikir sesuai dengan norma-norma yang telah ditetapkan oleh agama. Dan
sejarah telah membutikan bahwa islam di masa kejayaan dapat mengambil alih
beberapa aliansi besar dunia seperti konstantinopel dan lain sebagainya
berasaskan pada agama Islam yang mereka yakini dan menjadi ilmu pengetahuan
yang selama ini yang mereka tuntut dari para guru-guru mereka menjadi tombak
mereka untuk membawa Islam menuju peradaban yang lebih maju.
Maka dari itu, marilah kita bertadabbur sejenak
mengenai keempat hal ini, apakah kita termasuk kegolongan pertama, kedua,
ketiga atau keempat. Wallahu a’lam bissawaab.


0 Komentar